Tampilkan postingan dengan label Tafaqqur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafaqqur. Tampilkan semua postingan

5/01/2013

IkhtiLat

Hah~ hembusan nafas panjang dipagi pertamaku.
hati jadi gelisah, perasaan jadi remuk. kalau sudah begini mau tak mau mulutku meracau dengan sendirinya melantunkan kekesalan hati dengan sembarang lirik berani.

" manusia... begitulah mereka.. yang hanya tahu cinta.. tanpa tahu penciptanya...
manusia ... begitulah mereka.. yang hanya tahu bahagia... tanpa tahu deritanya...
lalu musibah datang menerpa.. dan  mereka menangis sambil tertawa.. hahahaha
manusia.. begitulah mereka... saat cobaan datang.. barulah ingat siapa Tuhan... "

bisa ditebak seperti apa lantunan musiknya. melihat liriknya saja, pasti sudah tahu bahwa kalimat yang baru saja keluar dari mulutku, sangatlah "pedas" dan "tajam" untuk dijadikan sebuah album terlaris. #yakin?

Salahku juga membawa permasalahan ini pada meja hijau pagi. harusnya ku lihat situasi dulu, harusnya ku lihat keadaan dulu. tapi setelah ku pikir ternyata aku "tak bersalah" hampir tiap hari ku lobi mereka bahwa "Ikhtilat" itu haram.. tapi mereka tak jua percaya. ku beberkan dalil aqli dan naqli, lalu mereka membantah, seakan bangga bahwa kesombongan memang milik manusia, bukan milik Sang Pencipta..

lalu mereka marah, menghantam apa saja dengan aumannya.
lalu mereka murka, menghancurkan apa saja dengan cakar tajamnya.

sudah ku bilang, "Utamakan pandangan Allah ta'ala bukannya Manusia" tapi mereka membangkang, seolah-olah Tuhan hanya ada di Mesjib, bukan disamping mereka, bukan didepan mereka, atas, bawah dan memperhatikan segala yang mereka perbuat dan ucap.


lalu aku harus bilang apa? Marah?
itu bukan aku, aku masih sanggup mempertahankan Baqa'ku. aku masih tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. aku masih ingat, bagaimana sahabat Rasulullah yang sedang berperang tidak jadi menghunuskan pedangnya hanya karna diludahi musuh, dan takut apa yang Beliau lakukan bukan karna Allah ta'ala, tapi karna marah telah di ludahi.

dan aku hanya diam, lalu tertawa dalam hati menghibur diri.
dan aku hanya tenang, menyisakan Roti yang tak habis ku makan karena sudah tak berselera.
dan aku pamit keluar, bergegas berangkat kerja menahan perih dalam hati, bukan karena marah kepada mereka, tapi karena kasihan atas ke"tidaktahuan" dan ke"tidaksadaran" diri mereka.

Ya Allah...
bukakanlah pintu hati mereka, jangan biarkan sombong memakan jiwa mereka.
Ya Allah..
kuatkanlah hati mereka, orang-orang yang menyerukan Agamamu, jangan biarkan Iblis menanamkan penyakit kedalam hati mereka..

Aamiin~




2/12/2013

Masih Pacaran? Udah, putusin aja...


1. pacaran itu menjalin silaturahim | "silaturahim itu
hubungan ke kerabat, bukan pacaran" #Udah
Putusin Aja

2. pacaran itu bikin semangat belajar | "semangat
belajar maksiat?" #Udah Putusin Aja...

3. pacaran itu buat dia bahagia, itu kan amal shalih
| "ngarang, btw, telah bahagiakan ibumu?
ayahmu?" #Udah Putusin Aja

4. pacaran itu sekedar penjajakan kok | "serius nih
penjajakan? ketemu ibu-bapaknya berani?" #Udah Putusin Aja

5. kasian kalo diputusin | "justru tetep pacaran
kasian, dia dan kamu tetep kumpulin dosa kan?" #Udah Putusin Aja

6. kasian dia diputusin, aku sayang dia | "putusin
itu tanda sayang, kamu minta dia untuk taat sama
Tuhannya, betul?" #Udah Putusin Aja

7. putus itu memutuskan silaturahim | "silaturahim
itu kekerabatan, sejak kapan dia kerabatmu?" #Udah Putusin Aja

8. nggak tega putusin.. | "berarti kamu tega dia ke
neraka karena maksiat? apa itu namanya sayang?" #Udah Putusin Aja

9. aku nggak zina kok, nggak pegang2an, nggak
telpon2an, kan nggak papa? | "nah bagus itu,
berarti gak papa juga kalo putus" #Udah Putusin Aja

10. aku pacaran untuk berdakwah padanya kok |
"ngarang lagi, dakwahmu belum tentu sampai,
maksiatmu pasti" #Udah Putusin Aja

11. nanti putusin dia gw gak ada yg nikahin
gimana? | "pacaran tak jaminan, realitasnya banyak
yg nggak nikah sama pacarnya" #Udah Putusin Aja

12. berat mutusin | "semakin berat engkau
tinggalkan maksiat untuk taat, Allah akan beratkan
pahalamu [:)] [:)] " #Udah Putusin Aja

13. nanti aku dibilang nggak laku gimana? | "bukan
dia yang punya surga dan neraka, abaikan saja" #Udah Putusin Aja

14. kalo aku putusin dia, dia ancam bunuh diri |
"belum apa2 pake anceman psikologis, dah nikah
dia bakal ancem bunuh kamu!" #Udah Putusin Aja

15. dia masi ada utang ke aku, berat mutusinnya |
"hehe.. kamu ini rentenir ya? kl terusan hutangnya
malah nambah" #Udah Putusin Aja

16. pacaran itu makan waktu, makan duit, makan
hati | mending waktu, duit dan hati diinvestasikan
ke Islam, #Udah Putusin Aja

17. pacaran memang tak selalu berakhir zina, tapi
hampir semua zina diawali dengan pacaran, #Udah Putusin Aja

18. pacaran itu disuruh mengingat manusia, bukan
mengingat Allah | melisankan manusia bukan
Allah, #Udah Putusin Aja

19. pacaran itu bikin ribet, dikit2 bales sms, dikit2
telpon, dikit-dikit minta dikirim pulsa (wah, sms
mamah baru nih) #Udah Putusin Aja

20. pacaran itu dikit-dikit galau, dikit-dikit galau,
galau kok dikit-dikit? hehe.. #Udah Putusin Aja

21. lelaki, coba pikir, senangkah bila engkau
menikah lalu ketahui bahwa istrimu mantan ke-7
laki-laki berbeda? #Udah Putusin Aja

22. wanita, coba pikir, inginkah berkata pada
suamimu pasca akad kelak "aku menjaga diriku
utuh untukmu, untuk hari ini [:)] [:)] " #Udah Putusin Aja
hhahhaha


9/16/2012

Eksploitasi Kecantikan Muslimah


 
Kontes Muslimah hanya menguatkan opini bahwa menutup aurat itu harus cantik dan trendy.
Fenomena kontes kecantikan kini melanda dunia Muslimah. Ajang pencarian Muslimah tercantik dengan busana paling modis dan fashionablemulai dihelat beberapa kalangan. Seperti Hijab Hunt 2012 yang diselenggarakan sebuah portal berita ternama bekerja sama dengan beberapa kosmetik dan desainer.
Lalu World Muslimah Beauty 2012 yang akan dihelat 9-16 September mendatang di Jakarta. Pemilihan duta Muslimah tersebut digelar bersamaan dengan pertemuan para pengusaha bisnis syariah dunia bertajuk The 3rd Muslim World Biz 2012, yang akan dihadiri oleh delegasi negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) serta para pelaku bisnis syariah dunia, pada 12-16 September di Jakarta.
Nah, tujuan kontes-kontes itu satu: mencari Muslimah cantik untuk ikon fashion busana atau kosmetik Muslimah. Jadi, seperti tahun-tahun sebelumnya, pemenang ajang kontes seperti ini sontak akan menjadi model. Baik model foto maupun peragawati yang lenggak-lenggok memperagakan busana Muslimah karya para desainer kenamaan.
Wajahnya akan nampang di majalah-majalah Muslimah, katalog brand-brand busana Muslimah ternama, brosur produk kosmetik, bintang iklan produk Muslimah atau seliweran di panggung-panggung peragaan busana Muslimah.
Lantas apa bedanya dengan foto model dan peragawati pada umumnya? Cuma satu: tidak mengumbar kulit tubuh. Adapun dandanan make up sama saja, tetap mempertontonkan kecantikan alias tabaruj. Duh!

Haruskah Modis?
Belakangan ini semangat menutup aurat di kalangan Muslimah memang menggembirakan. Mereka bahkan membentuk komunitas-komunitas khusus untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam menutup aurat, mereka lebih suka menggunakan istilah hijab dan menyebut diri hijaber.
Menurut bahasa, hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi. Sedangkan menurut istilah syara’, al-hijab dimaksudkan sebagai suatu tabir yang menutupi badan wanita.
Entahlah, mengapa istilah hijaber lebih disukai. Yang jelas, motto para hijabers ini sangat terkenal, yakni tetap fashionable meski menutup aurat. Mengklaim berpenampilan syar’i tapi tetap modis. Sayangnya, sadar atau tidak, mereka telah terseret filosofi dunia fashion ala sekuler-kapitalis pada umumnya.
Seperti diketahui, fashion umumnya diciptakan untuk menonjolkan kecantikan wanita. Fashion harus selalu berubah dan up to date. Selalu memunculkan trend-trend terbaru. Nah, kondisi ini turut menyeret para hijabers sehingga mereka merasa harus selalu mengikuti trend busana Muslimah teranyar, wajib terlihat fresh dan fashionable dengan model-model busana yang paling up to date. Mereka merasa bangga bila mengenakan busana Muslimah merek ternama, karya desainer favorit atau bahkan mix and matchdengan busana-busana branded keluaran Barat, yang penting gombrong atau panjang. Seperti memadukan dress tanpa lengan dengan blazer keluaran Zara. Atau memadukan tunik dengan celana pantalon branded dari butik Max & Spencer.
Padahal, sekali lagi sayang, busana-busana Muslimah up to date yang mereka klaim itu, sangat jauh dari nilai-nilai syara´. Bahkan, terkadang yang tampak justru penampilan yang lebih glamour dan lebih tabaruj dibanding wanita pada umumnya yang tidak menutup aurat.
Hal ini tentu memunculkan keprihatinan. Di satu sisi kita salut dengan semangat berhijab mereka, namun di sisi lain mencuatkan opini di kalangan Muslimah bahwa berbusana itu harus modis dan cantik. Padahal, bukan itu esensi busana takwa, melainkan sebagai identitas Muslimah dan penjagaan izzah (harga diri, red).

Eksploitasi Kecantikan
Keberadaan kontes-kontes kecantikan Muslimah semakin menguatkan opini bahwa Muslimah itu harus cantik dan trendy, tak kalah dengan wanita-wanita pengumbar aurat. Buktinya, kontes ini pun selalu mensyaratkan harus berusia muda (17-30 tahun), fotogenik, terlihat menarik saat difoto dalam beberapa angle, tertarik dan berminat dengan dunia fashion.
Memang, mereka tak harus mengumbar aurat. Namun, kecantikan tetap saja menjadi poin penilaian. Wajah harus sedap dipandang dan bodi tinggi langsing. Pokoknya urusan kecantikan, nggak kalah dengan peserta kontes ratu-ratu kecantikan umumnya.
Nah, setiap peserta pasti ingin memenangkan kontes yang diikutinya. Apalagi hadiahnya cukup menjanjikan. Selain uang tunai jutaan rupiah, juga kesempatan menjadi terkenal sebagai foto model Muslimah. Tentu saja, berbagai cara mereka lakukan untuk itu. Seperti memutihkan wajah agar tampak lebih camera face, rajin ke salon sekadar menicure dan pedicure, menjaga kelembaban bibir, diet agar tetap langsing sehingga serasi mengenakan busana Muslimah model apapun, dan perawatan lainnya.
Sementara itu, untuk menghasilkan foto yang eye catching alias enak dipandang, tentunya harus ditunjang make up dan busana terbaik.  Dipilihlah produk kosmetik termahal dan baju-baju branded yang harganya juga selangit. Kalau sudah begini, apa bedanya dengan peserta kontes-kontes ratu kecantikan pada umumnya? Sama-sama mengeksploitasi kecantikan perempuan.

Jaga Privacy
Para Muslimah seharusnya menyadari, potensi pada diri mereka bukanlah sekadar fisik. Jika Allah SWT menganugerahkan wajah cantik, fotogenik dan bodi aduhai, bukanlah untuk dieksploitasi.
Islam telah melarang wanita melakukan tabaruj (menampakkan perhiasannya).   Dengan kata lain, tabaruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.
Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar’i, namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabaruj. Allah SWT berfirman: “Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka (jilbab, red) tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabaruj).”[al-Nuur: 60]
Mafhum muwafaqah ayat ini adalah, “jika wanita-wanita tua yang telah menapouse saja dilarang melakukan tabaruj, lebih-lebih lagi wanita-wanita yang belum tua dan masih punya keinginan nikah.”
Jelaslah, mempertontonkan kecantikan untuk konsumsi publik tidak diajarkan Islam.
Berbusana dan berdandan dengan maksud agar terlihat cantik, modis dan trendy bukanlah tujuan seorang Muslimah. Kalaupun Muslimah tampil serasi dalam berbusana, hendaklah semata-mata diniatkan dalam rangka ibadah. Jadi, jangan mudah tergoda bius-bius dunia fashion. [mu]


5/29/2012

Obrolan Ringan Dengan Sang Ibu.


Beberapa minggu yang lalu saya dapat tugas dari kantor untuk keluar kota, kebetulan kendaraan yang saya pilih adalah bus patas AC.

Di samping saya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Sekedar basa-basi saya  menyapa ibu yang duduk di samping saya, dan tak lama kita pun larut dalam obrolan ringan.

"Ibu mau ke Bandung ya.....Kok sendirian saja, emangnya bapak nggak mengantarkan ya....
" Iya, Nak....! Suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu....
"Ooooo....maaf ya bu kalau perkataan saya menginggatkan  meninggalnya bapak, 


"Oh ndak papa nak...!

" Terus kalau boleh tau Ibu, ada acara apa pergi ke Bandung ?" tanyaku.

"Oh... saya mau ke Bandung mo kondangan tempat saudara yang kebetulan ngawinin anaknya terus lanjut ke Jakarta "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua", jawab ibu itu.

" Wouw... hebat sekali putra ibu" jawabku 

Sejenak aku terdiam dan merenung.

 Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu saya melanjutkan pertanyaan.

" Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??

Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??"

Oh ya tentu " si Ibu bercerita :"Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."

Sayapun terdiam mendengar penuturan si ibu ini, hebat ibu ini.....kata saya, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

" Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"
Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, " anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak". Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar."

Dengan sedikit guyonan, ku  segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??


Do you want to know the answer??????...

Please scroll....
.
.
.
.
...Please scroll
.
.
.

........Dengan tersenyum ibu itu menjawab,

" Ooo ...tidak, tidak begitu nak....Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"


Bagai di sambar petir di siang bolong setelah saya mendengar jawaban dari si ibu ini....


Today's lesson : Everybody in the world is important. Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view because we can't make summary before reading "the book "completely.
A wise man said...The more important thing is not WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE DONE


Matur Nuwun Ibu....
Dengan cerita yang Ibu sampaikan menggugah alur logika saya untuk selalu menginggat akan kebaikan-kebaikan kakakku....




-Embah Marjani- days

5/01/2012

BirthDay ( Renungan Untuk Yang Gemar Merayakan Ulang Tahun )

Semangat Pagi.!!

ini postingan ke-dua saya yang mengupas tentang Ulang Tahun 
 
Mengingat kemarin datangnya sebuah pos surat yang berisikan undangan menghadiri ulang tahun salah seorang teman saya, Meri (nama bekennya) . karena jauhnya jarak kota, menjadikan alasan bagi saya untuk tidak memenuhi acara tersebut. tapi, dua hari setelah itu saya datang kerumahnya untuk memberikan hadiah. tapi saya pertegas bahwa hadiah ini bukan karena berkurangnya umur Meri atau berkurangnya jatah hidup Meri. tapi hanya sebagai hadiah silahturahmi. sudah hampir dua tahun ini saya mengetahui dan memahami bahwa dalam Islam tidak ada yang dinamakan '' Perayaan Ultah '' karena hal semacam itu adalah tradisi kaum Nasrani.

Let's Cekidot~ ^_^


-------------------------------------------
Lama saya tertegun. Memikirkan orang-orang yang selalu merayakan hari kelahirannya. Mengundang banyak orang untuk hadir, bersantap makanan hingga games-games untuk meriahkan suasana. Sorak tawa kegembiraan terpancar dari yang berulang tahun. Ucapan selamat serta do’a semoga panjang umur khususnya di ucapkan oleh yang hadir.

Yang semakin membuat saya semakin miris adalah tatkala mendengar kabar bahwa biasanya setiap perayaan ulang tahun biasanya juga di hidangkan mie goreng special untuk ulang tahun yang biasa disebut sebagai mie goreng ulang tahun. Mie goreng tersebut disajikan dengan member makna dan harapan agar kelak umur semakin panjang, rezeki semakin mengalir layaknya mie goreng tersebut. Sebagaiman tradisi sebagian masyarakat tionghoa yang selalu menyajikan Mie Ulang Tahun sebagai hidangan wajib bagi setiap perayaan tersebut.

Padahal umur dalam hal ini kematian adalah hal yang pasti, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa dimundurkan.

Allah swt berfirman : “Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat memundurkannya (TQS al-Hijr [15]: 5; al-Mu’minun [23]: 43)

Memang, ada sabda Nabi saw. sebagai berikut:
Siapa saja yang suka dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya hendaklah ia bersilaturahmi (HR al-Bukhari, Muslim, Abu dan Ahmad).

Juga ada beberapa hadis semisalnya. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan pertambahan umur bukanlah penundaan ajal. Yang bertambah tidak lain adalah keberkahan umurnya dalam ketaatan kepada Allah. Bisa juga maknanya adalah bukan pertambahan umur biologis, tetapi umur sosiologis, yakni peninggalan, jejak atau atsar al-‘umri-nya yang terus mendatangkan manfaat dan pahala setelah kematian biologisnya. Abu Darda menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan (kematian) seseorang jika telah datang ajalnya. Sesungguhnya bertambahnya umur itu dengan keturunan salih yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, lalu mereka mendoakannya sesudah kematiannya sehingga doa mereka menyusulinya di kuburnya. Itulah pertambahan umur (HR Ibn Abi Hatim dikutip oleh al-Hafizh Ibn Katsir di dalam tafsirnya QS Fathir: 11).

Selain anak salih, hadis lain menyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah dan sunnah hasanah juga akan memperpanjang umur sosiologis seseorang. Pelakunya, meski telah mati secara biologis, seakan ia tetap hidup dan beramal dengan semua itu serta mendapat pahala karenanya.

Maka sangat aneh jika ada seorang muslim merayakan ulang tahun dan mengharapkan agar umur nya menjadi panjang. Padahal dia seharusnya bersedih, karena jatah umur nya berkurang.
Ya, itulah salah satu pengaruh dari pola fikir sebagian masyarakat kita. Perayaan tersebut seolah telah menjadi tradisi yang tidak boleh ditinggalkan.

Bahkan saya pernah tahu ada sebuah keluarga yang selalu merayakan perayaan ulang tahun tersebut baik bagi yang baru berumur satu tahun hingga yang telah berumur (baca = uzur) sekalipun. Seakan haram hukum nya jika tidak dikerjakan.
Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut kelahiran bayi-bayi manusia yang baru. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.
Karena itulah, barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa, atau sebagai hari yang setiap tahunnya harus diperingati. Keluarga beliau, baik pada masa Jahiliah maupun pada masa Islam, juga tidak pernah memperingatinya, padahal beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Mengapa? Sebab, dalam tradisi masyarakat Arab, baik pada zaman Jahiliah maupun zaman Islam, peringatan atas hari kelahiran seseorang tidak pernah dikenal.

Pandangan Islam Terhadap Ulang Tahun

Memang, tidak ada satu pun nash baik dari al qur’an dan al hadist yang menyatakan bahwa merayakan ulang tahun itu adalah haram. Namun pula sebaliknya, tidak ada juga dalil yang menyatakan kebolehan tersebut.

Disinilah pentingnya dilakukan kajian yang cermat terhadap fakta perayaan ulang tahun itu sendiri. Kalau kita cermati secara seksama, perayaan ulang tahun adalah buah dari kebudayaan barat yang di bawa ke negeri-negeri Islam oleh para penjajah. Ini tatkala negeri-negeri Islam di pecah belah menjadi lebih dari 57 negara pasca di runtuhnya khilafah Islam pada tanggal 03 maret 1924 silam.

Sejak saat itu umat Islam mengalami kemerosotan di segala bidang, baik dari ekonomi, hukum, politik, social budaya.
Dan perayaan ulang tahun hanya satu diantara sekian banyaknya kebudayaan asing yang di bawa masuk ke dalam negeri-negeri Islam tersebut.

Maka jelas bahwa perayaan ulang tahun merupakan aktivitas yang bertasyabuh dengan orang-orang kafir. Memang tidak semua tasyabuh itu haram, karena memang ada batasan-batasannya. Namun untuk perayaan ulang tahun jelas merupakan tasyabuh yang bertentangan dengan Islam.

Batasan tasyabbuh adalah seseorang melakukan tasyabbuh (penyerupaan) terhadap apa yang menjadi ciri khas objek yang diserupai. Tasyabbuh terhadap orang-orang kafir maknanya adalah seorang muslim yang melakukan sesuatu hal dari kekhususan mereka. Adapun sesuatu yang telah umum tersebar di kaum muslimin dimana hal itu tidak membedakannya dengan orang-orang kafir, maka tidak termasuk tasyabbuh. Bukan pula termasuk sesuatu yang diharamkan dari sisi tasyabbuh-nya itu, kecuali jika sesuatu itu diharamkan dari sisi yang lain. Dan sebagaimana yang kita sudah fahami bersama bahwa perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang khas bagi mereka.

Maka dalam hal ini, Rasulullah saw mengingatkan kepada kita semua akan sabda nya :

Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir adalah haram meskipun tidak mempunyai maksud seperti mereka, dengan dalil hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang tasyabbuh dengan satu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud didalam Sunannya dan lainnya)

Hadits ini menetapkan berbagai hal tentang dilarangnya menyerupai orang-orang kafir.

‘Amr bin Syu’aib telah meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami. Jangan kalian menyerupai yahudi dan nashrani.”

Ganti Merayakan Dengan Muhasabah Diri

Kalau kita sudah sadar bahwa umur semakin berkurang sehingga tidak ada yang pantas dirayakan,maka sebaiknya kita melakukan muhasabah diri.

Muhasabah diri memang tidak harus setahun sekali, tidak pula 6 bulan sekali, atau satu bulan sekali, karena seharusnya setiap hari kita bisa bermuhasabah diri kita, sejak bangun dari tempat tidur hingga kembali ke tempat tidur, kita bisa menghisab diri kita sendiri, selama perputaran waktu 24 jam, berapa jam yang kita habiskan untuk tidur, bekerja, nonton TV, bercanda dengan keluarga, kerabat, teman, sahabat, rekan kerja bahkan terhadap orang baru di kenal, berapa jam yang kita habiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, dan berapa jam yang tersisa untuk kita beribadah kepada Allah.

Kalau sekarang umur kita 25 tahun, maka anggap saja kita hidup sampai umur 65 tahun, maka masih ada sisa 40 tahun.
Saya tertarik ketika membaca sebuah artikel renungan hidup pada sebuah artikel cetak. Disana sang penulis menceritakan bagaimana ia terdiam dan tertunduk hingga menangis tatkala sahabat nya memberikan nasehat untuk menjalani sisa kehidupan selama berada di dunia ini.

Teman nya tersebut berkata :

“Andai jatah hidup kita di dunia ini 60 tahun, dengan usia kita saat ini 38 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 22 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 50 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 12 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 40 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 2 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umur kita sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Ijrail mencabut nyawa kita? Duh! Betapa singkatnya hidup 38 tahun. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 22 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah cuma dua hari lagi…”

Ia lalu melanjutkan:

Andai selama 38 tahun itu kita tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidup kita hanya dipakai untuk tidur, yakni sekitar 12,7 tahun. Andai sisa waktu kita perhari yang tinggal 16 jam itu kita pakai 4 jam untuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna, berarti sisa waktu kita perhari tinggal 12 jam. Sebab, yang 12 jamnya dipakai untuk tidur dan melakukan hal-hal tadi. Dua belas jam berarti setengah hari. Jika ia dikalikan 38 tahun, berarti 19 tahun (separuh umur kita) hanya kita pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tak berguna.

Ia pun bertutur lagi:

Dalam usia 38 tahun itu, kita, misalkan, baru mulai bekerja efektif pada usia 25 tahun. Berarti kita bekerja sudah 13 tahun. Jika rata-rata kita bekerja 8 jam perhari, berarti kita telah menghabiskan waktu kita untuk bekerja 1/3×13 tahun=3,9 tahun. Artinya, dari 38 tahun itu kita menghabiskan total kira-kira 22,9 tahun hanya untuk tidur dan bekerja mencari dunia; termasuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan mungkin melakukan hal-hal tak berguna.
Mari kita bandingkan dengan aktivitas ibadah kita, juga dakwah kita. Andai shalat kita yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti kita hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya sekitar 23 hari pertahun. Andai kita baru benar-benar menunaikan shalat umur 15 tahun (saat mulai balig), berarti kita baru menghabiskan sekitar 414 hari (=23×18 [38-15]) untuk shalat. Artinya, selama 38 tahun, kita menunaikan shalat hanya 1 tahun 49 hari!

Sang penulis kemudian menyela teman nya tadi dan berkata“Bekerja kan termasuk ibadah juga.”

Namun, segera temannya mengajukan pertanyaan retoris kepada dia:

Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di sisi Allah? Bagaimana jika amal-amal kita ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalat kita yang jarang sekali khusyuk itu ditolak oleh Allah? Bagaimana pula jika dakwah kita pun—yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis—tak dipandang oleh Allah?

Betul. Kita tidak boleh pesimis. Kita harus penuh harap kepada Allah, semoga semua amal-amal kita Dia terima. Namun, kita pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini kita anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzu billâh. Kita memang tidak berharap seperti itu.

Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali kita bermaksiat. Kalikan saja, misalkan, dengan 23 tahun usia kita (38 tahun dikurangi masa kanak-kanak prabalig).

Ya,itulah yang bisa kita jadikan renungan akan kehidupan kita. Pandai-pandailah kita untuk menghisab diri kita sebelum kelak kita di hisab oleh Allah swt di yaumil Hisab.

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata,

"Orang yang cerdas adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Siapa ingin selamat dari kehinaan dan pertanyaan (hisab) pada hari qiyamat, ia harus menghisab dirinya didunia sebelum dihisab diakhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan". (QS. Al Hasyr [59]: 18)

Umar bin Khoththob rohh memahami makna ayat diatas dengan mendalam. Ia berkata kepada rakyatnya: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah menghadapi hari qiyamat". (lihat, Tarikhu Umar: 201)

Oleh karena itu, mari jadikan setiap waktu yang kita lalui, setiap tahun, bulan, minggu, hari, bahkan per detik untuk selalu mawas diri, menghitun-hitung berapa banyak amal shalih yang kita kerjakan berbanding dengan berapa banyak amal salah yang kita lakukan. Bukan malah bersorak ria dengan perayaan ulang tahun yang tidak bermakna, bahkan hakikatnya memang tidak layak untuk dirayakan Wallahu A’lam bishowab.

3/21/2012

Ibu, Ibu, dan Ibu ....


Beberapa hari yang lalu saya di datangi oleh seorang teman yang sangat akrab saya sapa ''Butet''. 
Butet adalah nama pemberian kami satu sama lain sewaktu Esempe dulu. namun bukan berarti doi berasal dari marga Batak. semasa Esempe dulu, dengan dua orang kawan kami membentuk sebuah Genk kelompok belajar. dari sanalah julukan atau nama2 aneh mulai bermunculan hingga akhirnya giliran saya diberi nama yang paling subhanallah ''Kokom''. itu dikarena sewaktu itu saya sering membawa dan membaca komik didalam kelas. Kom-ik, disingkat dan jadilah Kokom =.= 
jujur saya sempat tidak ''sudi'' menerimanya bahkan memprotes dengan 2 nama teman yang lain menurut saya tidak sama dengan nama saya yang jauh dari realitas *hallah!
sampai akhirnya dengan lapang dada nama itu diterima juga dengan syarat saya akan mengganti nama2 mereka. '' Mimin'', ''Kokom'', ''Butet'', ''Paijo''. nama2 ''beken'' yang sempat naik daun setengah semester kami di kelas 3.1 *twew~ -__-

Setelah lulus Esempe kami tidak pernah lagi saling jumpa. bahkan setelah melanjutkan studi ke Esema untuk saling silahturahmi kerumah pun tidak (kami masuk ke Esema yang berbeda). kesibukan masing2 membuat waktu berjalan terlalu cepat sehingga banyak hal2 sekitar yang terkadang terlupakan. sampailah hari setelah hampir 4 tahun lamanya dimana tak sengaja kami bertemu hingga akhirnya berjanjian untuk saling jumpa dan bersilahturahmi. 

di dalam obrolan kami doi mengeluhkan perihal kuliahnya. beberapa hari menjelang ujian praktek kerja lapangan yang ia pusingkan, ada beberapa sample yang mesti ia hafalkan untuk dipresentasikan. dengan wajah sedikit manyun doi bertanya kepada saya. (sekilas perbincangan kami)

Butet : 
kenapa ya, apa aku bodoh atau macam mana? berlembar2 sample buwat presentasi 2 minggu lagi belum juga aku hapal2. pusing aku!
saya : 
kena..pa? apa kau tak menghafalnya? jangan2 hobby malasmu itu belum berubah. (dengan menirukan logat bataknya)
Butet : bukaaan. siang malam sampai ke Wece (*toilet) aku menghafalnya, tapi tetap aja tak masuk. lama2 bisa gila aku kalo g lulus tahun ini.

Seingat saya Butet termaksud siswa yang pintar, pun waktu kami Esempe hampir 3 kali ia mampu menggeser prestasi Juara 2 dikelas kami.sambil melihat mukanya yang sudah berubah dari senyum menjadi manyun, saya jadi berpikir untuk menanyakan beberapa hal kepada doi. 

saya :
Gimana kabar Emak kau? (tanpa menghilangkan logat batak)

Butet :
udah tiga tahun aku pisah dengan beliau. aku tak tinggal ngan mereka lagi. 

Saya :
kenape? ada yang salah ke? (tiba2 pembicaraan kami bertukar menjadi logat melayu)

Butet :
kau tau lah.. semenjak Esempe aku dah tak baik dengan Mak aku tu. tak tahu kenape pusing ja kepala aku liyat die. apalagi ba'da Bapak aku tu cerai dengan die. tambahlah aku tak suka. 

Saya :
apa sebab kau tak suke? sedari dulupun beliau tak nampak kat aku main kasar ngan kau thu..

Butet :
kami tu tak satu pemikiran. boleh jadi die yang melahirkan aku, tapi yang membesarkan cumalah Bapakku sorang jhe.. die sibuk melingkar2 (pulangpergi) tak tahu arah ..

Saya :
kini macam mana? ade ke kau bersilahturahim ke rumah beliau?

Butet :
mane lah ade.. berkali2pun Bapak memakse nyuruh pegipun, aku tak nak..

kembali saya berpikir mengenai obrolan kami. hingga teringatlah saya sebuah Sms dari sebuah Ukhty saudara saya nun jauh di pulau seberang sana.



Kami mengeluh kepada Imam Waqi’ tentang kelemahan hafalanku, maka ia memberiku petunjuk agar meninggalkan maksiat.
Dia memberiku nasehat bahwa sesungguhnya Ilmu itu adalah Nur Allah. Dan Allah tidak akan menunjukannya kepada orang yang maksiat.
(Imam Syafi’i)
 
''Ridho Orangtua tergantung Ridho Allah''



Nah .! itulah letak salah kau tu,..
cuba kau resapi kalimat ni. bermaksiat tentulah itu kau sebab kau tak mau berminta maaf dan memberi maaf pada Emak yang sudah bikin kau lahir di dunia ni .. cubalah singgah kat rumah beliau barang sekejap. abis tu bawaklah sholat sunah minta ampunan Allah. niscaya urusan2 kau tu lancar nantinye...

Butet :
mane boleh macam tu..

Saya :
coba lah denga barang sekali je kata2 aku ni..


Lama ia merenung.  ku lihat Butet berpikir terlalu lama. 
mungkin ia berpikir sesuatu yang kurang dalam dirinya. Mengingat kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah ia dapatkan sejak kecil. tentulah bukan sesuatu yang mudah untuk menjadi sekedar ''akrab''.


Butet :
Yelaah, biar ku pikirkan dahulu ..
kau juge.. pegilah minta ampun kat Emak kau tu.. (sambil tertawa Butet menjentik kepala saya, kebiasaan sedari Esempe)

aku tak sama ngan kau ..., kataku membalas jentik'annya.
satu gelas Es Poci menutup pembicaraan kami kala siang itu. Butet kembali ke tempat kerjanya berikut juga saya. 

ibrah dari obrolan saya dengan Butet tentunya membuka hati saya untuk lebih berbakti pada orangtua.


Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab:
Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian
ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)

~ kesuksesan seorang Anak itu dilihat seberapa berbakti ia pada Ibu/orangtuanya.. ^ (terlepas dari ta'at atau tidaknya orangtuanya pada Allah Swt) wallahu a'lam~



3/13/2012

Don't Give Up

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 


Semua sudah terjadi, semua sudah hancur, semua sudah hilang, tetapi bagi org beriman pantang putus asa, masih punya "ar roja" harapan, kecuali org2 yang tidak beriman sangat rapuh, cengeng, marah marah, banyak berkeluh kesah, ih ah uh cih, menyalahkan yang lain, mudah putus asa bahkan sampai bunuh diri (QS3:185). 


Ingat, Selama hidup berarti masih ada HARAPAN. 
Sungguh harapan itu akan menjadi kenyataan dg KESUNGGUHAN TAQWA, SEMANGAT IKHTIAR, KEKUATAN DOA, KETULUSAN BAIK SANGKA & KEYAQINAN TAWAKKAL ..


Ingat!, tidak ada yg mustahil bagi ALLAH, semua bisa terjadi & amat sangat mudah bagiNYA, "KUN FAYAKUUN". 


Ayo bangkit sahabatku, NEVER GIVE UP, INSYA ALLAH YOU FIND A NICE BLESSING & A RIGHT WAY...AAMIIN. 




Ust. Arifin Ilham
 

~a thousand dreams.~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea