4/04/2012

Ontel Tua - bag.I

Cerah pagi menemani kayuh ontel tuaku. Walau masih sangat pagi, aku mencoba berangkat lebih cepat dari biasanya. Takut nanti terlambat lagi seperti yang lalu. Si tua itu pasti akan memaki-makiku dengan kalimat kasarnya yang menghujam ke hati siapa saja yang mendengarnya. Pak Raden, begitu anak sekolahan ku menjuluki beliau. Dengan badan lempem berisi padat bak ondel-ondel plus kesan samar kumis lebatnya membuatnya sangat terlihat mirip dengan Pak Raden yang sering muncul di acara televisi mendongengkan cerita bergambar pada anak-anak. Kau tau, anak-anak sangat suka didongengkan, dan mereka senang mendengar dongeng apalagi Dongeng Jenaka. Itu pak Raden televisi, berbeda dengan Pak Raden dunia nyata sekolahku. Dongeng yang diceritakannya bukan ditunggu-tunggu dan disenangi oleh anak-anak ataupun remaja seusiaku. Tapi di Hindari. Karna, ketika kau mendengar dongengnya, kau harus bersiap-siap untuk mendapat malu dan takkan berani lagi muncul di sekolah esok paginya, kecuali bagi yang bermuka tebal. Beliau akan mendongeng panjang lebar yang membuat panas telinga dan hatimu, mengungkit masalah masa lalumu, kekuranganmu dan hal jelek apa saja yang ada padamu dengan suara lengkingannya yang keras itu sehingga membuat seantero sekolah mendengarnya dan mencigap dijendela. Ketika itulah kau akan berasa malu hingga tak berkutit dan merasa lebih baik “Mati saja”.
Haha~ belum apa-apa setelah yang aku alami. Ia menginjak-nginjak harga diriku. Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasa, tapi dipersimpangan jalan aku baru ingat bahwa aku lupa membawa buku tugas dari Guru sejarahku. Kontan saja aku segera berbalik arah untuk menjemputnya dan aku melupakan resiko apa yang akan menimpaku. Terlambat sepuluh menit untuk sampai disekolah, Pak Raden itu sudah menungguku sambil berdiri berkacak pinggang dan berorasi bak Provokator Demonstrasi. Dan mulailah ia membuka buku hitam mencatat namaku berikut hal-hal yang pribadi didiriku. Aku heran dari mana ia tahu semua tentang itu. Termaksud biaya sekolahku yang kudapat dari mengumpulkan botol-botol bekas.. Akh~ kejam .. betapa menyakitkan ini. malu aku mengangkat wajahku karna ku tahu .. anak-anak yang lain pasti memperhatikanku. Hatiku beku terhujam kaku mendengar apa yang ia sorakkan. Sakit! Dengan logat batak kentalnya. Suaranya tak membentak tapi melengking lembut seperti Angin yang memuntahkan jarum-jarum tajam.

“ Mati saja kau jika tak bisa disiplin di sekolah ini. Sudah banyak kok.. orang dungu sepertimu yang lebih memilih hidup liar dibanding terikat dengan peraturan sekolah. Ku lihat kau sama saja dengan mereka. Hmn ... Aku heran dengan apa kau masuk kesini hingga kau bisa bersekolah disini. Otak dungu mu sama sekali tak membantumu untuk belajar ,bukan ? Heh..” senyum liciknya ia sunggingkan padaku.
“Lihatlah dirimu yang tak pernah bercermin ini Boy ... tampangmu menunjukkan kau tak cocok jadi orang sukses. Bagaimana kalau kau lanjutkan saja pencarian botol-botol bekasmu yang tak berharga itu ? daripada kau membuang-buang waktu disekolah ini”.
Sherp! Darahku tersirap mendengarnya. Menurutmu menyakitkan ? bagiku “Ya”. 

Hah~~ Pak Raden ... Apa Bapak tak tahu,, melukai hati sesama mukmin itu berdosa. Apalagi membuka Aib orang lain. Astaghfirullah.. Pak.. pak ..., bersitku dalam hati. Cuma dalam hati kok. aku hanya bisa mengusap dadaku.

“Setuju?” lanjut ia berkata sambil berbalik membelakangiku. Agaknya Ceramahnya yang singkat, padat dan jelas itu telah Ia usaikan. Aura menantangnya merindingkan bulu kudukku. Tapi aku tak takut. Ku coba tegakkan badanku. Aku tak melawan. Aku hanya diam. Karna menurutku diam lebih baik daripada ku balas menjatuhkan Gengsinya. Huh. Bangga sekali aku jika percaya diri begini. Memang aku terlanjur sakit hati. tapi aku juga tak ingin menghancurkan apa yang aku perjuangkan 2 tahun ini. dengan langkah gagah berani tanpa tampang berdosaku (dosa apanya coba?) ku hentakkan kakiku melangkah kedalam kelas. Seisi kelas terdiam. Beruntung tak ada Guru. Mungkin telat, atau barangkali tidak datang.

“Eh, boy.. bagak sekali kau sama si Raden itu, tak takutnya kau ?”. Ucok teman sebangkuku.
“ Ah! kau ini Cok, kau kan satu marga sama Bapak itu, harusnya kau bela Bapakmu itu ..haha..”

Aku terkekeh menirukan logat udiknya. Walau bicaranya terdengar kasar, ucok itu teman pertama ku sejak disekolah ini. dua tahun kami berteman dan selalu sekelas bahkan sebangku. Herannya  kami tak pernah dipindahkan atau bertukar duduk dengan yang lain. Aneh, bukan?.

--oOo--

“Boy, lihat tuh .. ! ucok berbisik ditelingaku. Aku sedang asyiknya menyantap Soto gratisan dari Ucok. Berkali-kali matanya berputar-putar disekeliling kami. Pemandangan yang tak biasa, katanya.

“Biarkan mereka berkembang, Cok.. kau makan sajalah sotomu itu. Nanti keburu dingin.” Ujarku tak menghiraukan kata-kata Ucok.

Memang benar. Inilah salah satu resiko menjadi santapan pagi Pak Raden. Mata-mata penuh kebencian mengarah pada anak Esempe pencari botol-botol bekas yang sedang berjuang mengubah nasibnya. Tak pelak aku khawatir dengan penilaian mereka. Ku anggap saja angin lalu. Aku bertebal muka. Lebih tebal dari tiang beton yang sempat ku tabrak waktu keasyikan memandangi langit biru sepulang sekolah kemarin siang.
“Pulang kau gelandangan! Sekolah ini bukan tempat yang cocok untukmu!”  tanpa sengaja aku mendengar bisikan-bisikan jahannam merasuk telingaku. Lagi-lagi mengurut dada sambil beristighfar menjadi solusi.

“ Yuk, Cabut. Lama-lama aku bisa mati rasa disini.” Ucok menarik tanganku yang masih memegang sendok garpu.


- to be continued -
 

~a thousand dreams.~ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea